Tulisan ini terinspirasi dari blognya jil Gavril, tidak bermaksud untuk plagiasi namun mencoba memberikan pandangan dan cerita berbeda mengenai aku dan tiga manusia beda suku yang secara tidak sengaja menjadi teman2 satu angkatan di fakultas tercinta…. Fakultas Biologi. Aku menilai masih banyak yang disimpan jil mengenai kedekatan kami berempat. Banyak hal yang sudah aku lalui bersama mereka selama 2 tahun pertemanan kami. Bermula dari tahun pertama, masa dimana kami berpikir “ untuk aku” hingga masa2 berat yang memaksa kami untuk berpikir “juga untuk orang lain”… pada tahap itulah sebenarnya aku mulai berpikir kalau berbuat sesuatu untuk orang yang tidak kita kenal sekalipun punya nilai tersendiri untuk mereka tentang kita. Tidak ada kata terlambat menurutku, kan kebanyakan orang lebih mudah ngerti dari pengalaman sendiri daripada pengalaman orang lain.
Dulu, duluu sekali….. kami adalah keempat sosok yang selalu bersama, bertukar pikiran, suka tidur bareng nunggu jam kuliah meskipun keadaan kamar kos tidak memungkinkan (not my…^^), makan bareng (KS STEAK pojok kanan ; chicken strip), anak-anak PD (persekutuan doa). Kebersamaan itu pun hilang saat masuk tahun ajaran baru di pertengahan tahun 2009, semenjak silang pendapat diantara kami hingga menjadi perbedaan ideology yang mengakar hingga sekarang. Sangat disayangkan memang, namun tidak banyak ide untuk menyatukan perbedaan ideology itu… baik dari aku sendiri maupun dari ketiga kawanku. Hal itulah yang menjadi faktor utama cerai berainya apa yang sudah kami jaga dari tahun pertama kami kuliah. Kalau dipikir-pikir, ingin rasanya ke masa dimana kami masih suka bertukar pikiran, jil yang suka menceritakan banyak hal tentang kehidupannya, fitri yang begitu ekspresif jika menemukan hal-hal yang menurut dia aneh, dan teo yang suka curhat betapa nistanya perempuan yang belum punya pacar. Menjadi mahasiswa yang jauh dari orangtua tidak begitu berat kala itu (bersama mereka)….
Jil Gavril
Pertama kali melihat sosoknya kala aku terlambat siasat. Dia, bersama ka elin ke ruang perpus juga bermaksud untuk siasat. Penampilan feminim dengan rambutnya yang panjang dan sedikit agak cerewet plus dengan aksen daerahnya yang dulu aku anggap aneh. Aku tau itu, ketika aku perhatikan betapa ribetnya ka elin menghentikan kepanikannya yang telat siasat. Kita pun kenalan disitu, sesaat setelah ka elin melihat layar komputer tempat aku siasat bertuliskan FAKULTAS BIOLOGI. Mungkin pertama kali ketemu tidak terbersit sedikitpun pikiran bahwa aku nantinya akan sahabatan dengan Jil. Banyak penilaianku yang akhirnya berubah pada saat aku mengenalnya lebih jauh… tapi ada juga yang tidak berubah.
Sampai saat ini, aku tau dia mengharapkan sesuatu yang kadangkala bibir dan hatinya sendiri mencoba untuk menyangkal. Yah, meskipun dia bercita-cita untuk tidak menikah nantinya, namun aku berasumsi, dia berteori seperti itu karena blum ada yang mampu menohok jantung hingga tembus ke otaknya. Engineer sekalipun bahkan bisa menjadi pujangga kalo masalah cinta coy (ngerti kan?!) …tapi terkadang jil masih bisa membawa diri di banding aku yang setahun lebih tua. Aku masih tidak habis pikir kesabaran dan keteguhan hatinya meladeni laki-laki yang kemungkinan besar tumbuh dan besar di kulkas (freezer lebih tepat). Pesanku sie, lakukan apa yang kau nilai baik kawan, hidup Cuma sekali…
Rachel Fitria
Sosok besar ini aku liat dan kenal secara langsung di gedung F tepatnya F201, aku tidak terlalu dekat dengannya ketika sosev soalnya orangnya pendiam (dan aku menyesal pernah menilainya demikian sebelumnya). Dia pakai batik ijo dan celana jeans biru, duduk didekat teman-teman yang lain namun tidak berniat untuk buka suara. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan, tapi sikapnya yang tertutup membuatku tertarik untuk menyapa duluan. Karena aku paling telat masuk plus blum ikut PPMB, aku masih asing dengan teman-temanku yang lain, blum ada yang dekat. Makanya kuberanikan diri menyapanya, soalnya aku belum punya teman. Jil pun kemarin itu tidak terlalu dekat dengan aku meskipun kita sudah kenal pas siasat. Pertanyaan pertama ketika aku mencoba berteman, “kamu chineese ya?” pertanyaan paling oon setelah aku pikir beberapa menit kemudian. Jelas2 dia warga keturunan, kelliatan dari matanya yang sipit dan kulit mukanya yang khas. Cuma itu pertanyaan yang muncul di kepalaku kala itu.
Fitri, banyak hal yang tergambar di kepalaku tentangnya. Manusia paling egois, ekspresif dan gengsian yang pernah aku kenal. Dan sama seperti jil, aku belum pernah berpikir akan sedekat sekarang ini dengannya. Banyak hal yang sangat bertolak belakang dengan aku. Apalagi sifatnya yang gengsian, yah dia tidak mudah memaafkan kesalahan orang lain. Sifat yang sampai sekarang menurut aku tidak ada untungnya. Namun dibalik sifat dan sikapnya yang seperti itu, ada hal-hal yang aku cukup bangga berteman dengan dia. Kritis, solid dan pekerja keras. Yup tipe seorang pemimpin kalau tidak salah. Mungkin, dia orang yang agak pendiam namun aku menilai banyak pemetaan yang dia lakukan di hampir semua bagian otaknya. Tidak mudah ditebak apa yang dia pikirkan, tapi sifatnya begitu ekspresif diantara teman2 dekatnya. Paling bisa menyembunyikan perasaan dihadapan banyak orang… tapi kadang kalau susah nyimpan perasaan terhadap orang lain akhirnya curhat ke kita juga. Haha.^^
Teodora Gloria
Hmmmm, aku paling dekat dengan teo sebenarnya. Tapi semenjak aku bergabung dengan senat universitas dan matakuliah yang kita ambil banyak yang berbeda, aku aga jarang bertemu teo. Teman yang paling mengerti aku, dan punya banyak persamaan pandangan dalam menilai sesuatu. Meskipun ada beberapa bagian yang kita tidak sejalan, namun itu tidak membuat kita menciptakan jarak satu sama lain dan aku rindu itu…