Kamis, 20 Januari 2011

hanya untuk dikenang.....


Alkisah, sebuah kerajaan antah berantah bernama Urip Mulyo… yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana  bernama Viktorias Brahmantorus yang memiliki tiga orang putri dari permaisurinya yang sah (tentunya)…. Yang sulung bernama Trias Turuwislanti, yang kedua bernama Jilan Bawelistya dan sibungsu yang paling disayang, Fitsa Mangansekyati… sang raja yang ingin ketiga putrinya bahagia ingin sekali menjodohkan mereka dengan Raja-raja tetangga yang tajir-tajir. Tapi ketiganya menolak untuk di jodohkan dengan alasan masih laku dan memang sudah ada yang menarik di hati  mereka. Sang Raja ingin tahu siapa-siapa lelaki yang diinginkan ketiga putrinya, namun tak urung dia ungkap lebih jauh karena menjaga privasi dari ketiga putrinya itu.
“Trias, Jilan dan Fitsa… usia kalian sudah cukup matang untuk menikah nak, papih ingin kalian bahagia di usia kalian sekarang, papih tidak ingin kalian jadi perawan tua. Begitu banyak raja tetangga yang menginginkan kalian, kalian tinggal pilih, ntar papih yang susun acaranya.” kata Raja Viktorias suatu hari disela2 jadwal istana yang padat. “Ya ampun paduka papih, ga usa repot-repot gitu lha, kita-kita nih bisa cari sendiri kaliii, ga usah dicomblangin ….” timpal putri Jilan yang diamini oleh kedua saudaranya yang imut amit. ”Paduka papih, Fitsa juga sependapat dengan Jilan. Fitsa sudah punya someone gitu duehh jadi comblang2nya ntar aja la. Trias juga tampaknya sama dengan aku paduka papih.” ujar Fitsa. Dahinya berkernyit beberapa detik untuk menganalisis ucapan putri-putrinya. Ternyata mereka sudah punya lelaki yang disukai toh. Ucapnya dalam hati. “Baiklah anak-anakku, kalau papih boleh tau, siapakah gerangan para lelaki beruntung itu? Biar papih bisa contak2 kerajaannya untuk bikin jadwal pernikahan kalian… kalian ga usah khawatir, papih sudah terbiasa jadi event organizer wedding party, kalian tau sendirikan papih selalu straight dengan aturan2 event seperti itu sehingga hasilnya maksimal juga.” cerocos sang Raja panjang lebar hingga mulutnya berbuih kaya orang kena ayan. “ Aduh ntar ajah deh paduka papih, kasih privasi dolo…. Kita belum in relationship koq, masih flirting2 ajah.” sahut Jilan sengit mengingat ayahnya yang sok jadi mak comblang pro. “Paduka papih, kasih kita waktu untuk pendekatan… ntar kalo dah jadi, paduka papih kita kasitau koq… okehhh papih ya.” rayu si bungsu manja. Sang Rajapun luluh kalau sibungsu sudah merayu, meskipun hati dan pikirannya ingin tahu sapa saja orang2 yang sudah membuat putri2nya demikian. Pikirannya menerawang jauh, dia sebenarnya tidak telalu khawatir dengan putri sulung dan putrinya yang kedua mengingat mereka yang langsung diasuh oleh Patihnya yang paling dia percayai, Patih Pinoken Antublau dan menurutnya kedua putri sudah cukup dewasa. Hatinya masih was-was dengan putri bungsunya yang paling dikasihinya, mengingat dia yang masih muda apalagi jika pikiran sang Raja ngeflashback ingatan, tatkala Permaisuri yang dicintainya susah payah melahirkan putri bungsu yang beratnya sungguh menakjubkan itu.
“Paduka papih ngelamun jorok yaaa… idiiiihhhhh mentang2 paduka mamihh lagi gak disini.” Putri Jilan menyadari papihnya pasti bimbang dengan keadaan ini, sehingga mencoba mengubah suasana hati papihnya dengan bersuara beberapa oktaf lebih tinggi. “Gak koq…” sahut sang Raja kalem sekalem lem. Pandangannya tertuju pada Trias, putri sulungnya. Baru sadar sedari tadi putrinya itu tidak banyak komentar. Dia hanya bisa mengurut dada, melihat putri sulungnya itu sudah terlelap tidur dengan mulut mangap dikursi. Tidak ada yang bisa diperbuatnya sekarang, hanya menunggu hingga ketiga putrinya siap untuk ngomong. Diapun berlalu dari situ untuk menjumpai tamunya yang menunggu diluar.
“Trias, aku mau ngomong sama kamu.” panggil jilan ke Trias yang lagi tidur mangap di kursi. Tidak ada respon. Diapun mengguncang2 tubuh Trias hingga jatuh dan terpelanting dari kursi. Gubbrak… Trias sukses jatuh tersungkur dengan posisi muka mencium ubin yang dingin. “apa’an si kamu?” Trias bangun dengan muka lebam dan hidungnya bermeleran darah dan upil yang tergencet. “Kamu tu ya ga bisa liat orang tidur heh?!” sungutnya seraya membersihkan lukanya dengan taplak meja. “Aduh Trias, kamu ini galak bgt sie, Cuma gitu aja rame… mo curhat ni guwehhh ucungggg….” rengek putrid Jilan. Pale loe peyang cuma gitu aja rame, idung gwe yang malang, ungkapnya miris dalam hati. Diantara ketiga putri raja, hanya Triaslah yang bersifat agak tertutup, lebih suka mendengarkan orang lain dan suka baca (ga nyambung). Sehingga kedua adiknya yang lain, lebih senang curhat ke Trias. Memang mukanya rada-rada sangar dan suka cemberut, namun kedua saudaranya, Patih Pinoken Antublau dan ayahnya tau seperti apa hatinya, lembut dan penuh kasih sayang (xixixixixi….^^)
“Loe mau ngomong apa toh?”
 “Gini Trias, kamu tau kan Nikujeng itu mantan aku, dia itu lo nyebelin bgt… kita kan sudah putus tapi dia masih sayang sama aku, awalnya dia nerimo tapi ujung2nya dia suka bilang kalo dia nunggu aku… aku bener2 ga nyaman Trias…. Aku udah ilang feel sama dia… kalo udah ya udah toh… mbok ya jgn nunggu2 aku lagi gitu loh, kita itu udah end story… eh dia malah ga nrimo. Capek hati aku… aku kan selama ini baik2 aja sama dia hanya karna gak mau aja kita musuhan. N jujur nih aku udah nemu sosok yang aku cintai Trias… orangnya tinggi besar, cool dan pinter bahasa inggris… aduhhh pokok’e cakep la Trias. Kamu tau kan?! Itu loh Satikin anaknya Gubernur Provinsi Pepesthen… tapi aku masih takut kasitauh paduka papih… kamu tau sendirikan provinsi itu paling ngenyel sak kerajaan papih, papih kesel bgt sama mreka… tu loh pengennya daerahnya bebas upeti, kan ga bisa gitu… wong mereka satu kerajaan ya mesti nrimo kan…” ungkap Jilan panjang lebar hingga ngos-ngosan. Diapun menerawangkan khayalan tingkat tingginya bersama  Satikin. Berlari-lari, berkejar-kejaran di bawah pohon duren yang lagi musim… anginpun bertiup kencang, Jilanpun kejatuhan duren montong yang segede bagong tepat diatas kepalanya. Diapun pingsan dan Satikin kasi napas buatan…. Duileee indahnya dunia…. Gumam Jilan dalam hati sambil senyum-senyum mesum (huehuehuehue). Satu menit, dua menit, tiga menit, Jilan heran tidak mendengar respon apa2 dari Trias…. (tebak sendiri lah Trias knpa gak kasi respon)…. Dengan murkanya Jilan melemparkan batu bata terdekat bak seorang atlit lempar peluru kearah Trias yang lagi molor…. KEJEDUGGGGG……. Batu bata tepat mengenai jidatnya yang jenong. Trias pun pingsan…..
Berhari-hari kemudian, sang Baginda Raja merasakan banyak perubahan kepada ketiga putrinya. Ada yang suka senyum2 sendiri di bawah pohon Kamboja samping istana, ada yang sering keluar untuk jalan-jalan dan ada yang suka meringgis-ringis megang kepalanya yang diperban (yaiyalah sakit gitu lohh). Kemasgulannya pun dia ungkapkan kepada Patih kepercayaannya, Patih Pinoken Antublau. “Wahai patih, apa gerangan yang terjadi kepada ketiga putriku. Aku takut sesuatu yang buruk telah menimpa mereka. Tidak biasanya mereka seperti itu sebelumnya.” ungkapnya cemas. “Ampun beribu ampun baginda….. macam manalah baginda nda tau, mereka masih mudanya wajar sazalah jatuh cinta. Tidak ada yang buruk yang terjadi, kecuali mungkin putri Trias saja yang lagi cilaka.” sahut Patih Pinoken. “Ada apa dengan putri Trias, wahai Patih?” “Itu loh, ketiban batu bata, kemaren ada silap sedikit dengan putri Jilan, tapi udah nda papa koq… sudah di perban.” “oh.” Sang Rajapun manggut-manggut mengerti. “Patih… kuharap kau mau membantuku menjaga putri-putriku. Merekalah pelipur laraku pada saat Permaisuri tidak ada disampingku. Aku ingin kau menyelidiki siapa2 saja lelaki yang disukai para putriku. Kau perhatikan saja mereka dan laporkan kepadaku. Aku hanya tidak mau mereka menyukai orang yang salah dalam kerajaanku ini.” suara sang raja menggema didalam istana itu, mengungkapkan betapa galau hatinya akan ketiga putrinya. “Siap baginda, awak siap kerjaakan apa yang baginda inginkan.”
Putrid Trias dan Jilan keluar menyelinap keluar dari istana ketika sang Patih mengendap-endap membuntuti mereka. Mereka tidak tau sedang dibuntuti.
Dengan bantuan Isseratos tukang kuda kerajaan, kedua putri akhirnya sampai ke daerah Pepesthen. Mereka sedang mengamati seorang pemuda yang sedang berlatih panahan dengan datuk2 yang sudah tua renta bau tanah.
“Bagaimana menurutmu Trias?”
“Cakep sie, lumayan la. Bodinya bagus. Kamu sudah kenalan dengan dia? Dengar-dengar banyak putri-putri kerajaan yang suka lo sama dia, berebutan malah. Tapi kata mbak2 penjual cabe disana, kang mas mu itu orangnya agak2 cuek dan sombong loh.”
Mendengar itu Jilan seperti patah arang. “Iya sie, aku udah tau banyak tentang itu, CVnya aku punya koq. Dia orangnya pendiam jadi susah bgt aku deketin. Ya walopun kita udah temenan di facebuk, aku juga udah follow dia di twitter. Orangnya gak banyak omong. Aku banyak baca ttg tulisannya, ternyata dia tu menentang keras system upeti yang dibikin sama paduka papih. Info-info terbaru paling aku dapat dari temen deketnya, si slasieh…. Itu loh cewe lesbi yang suka sama kamu, paduka papih benci bgt ma dia.
Triaspun manggut-manggut atas info jilan. Mereka tidak lama disitu, mengingat jarak yang ditempuh untuk pulang cukup jauh dan melewati hutan-hutan rimbun.  Sepanjang perjalanan, Trias merasa tidak enak. Rerimbunan pohon yang menjulang tinggi menambah pikiran yang tidak tidak dalam benaknya. Gemirisik pohon-pohon seperti bergumam akan hal-hal yang tidak wajar.
 “Kamu merasa aneh gak Jilan?”
“Ya, sepanjang perjalanan aku juga merasa ada yang gak bener dueh ihh, kaya ada yang nguntit gitu, coba aku cek bentar ya bo….” (ihhh, koq jadi bencong gini sie…). Jilan mendongak keluar jendela kereta kudanya melihat keadaan sekitar. “Toss, ono sing wagu ra?”. “ra koq ndoro, nopo toh?” jawab Isseratos sambil nyengir nyinyir. “gpp, Cuma ngecek doank.”
“Trias, firasatku kita dibuntuti dueh. Tadi aku dah cek sekeliling. Atsmosfirnya beda gan. Sing penting waspada aja dueh. Takutnya itu intelijennya paduka papih yang ngikutin kita. Rak turu jo ngana!!!”
“Yo, aku juga mikir gitu.”
Beberapa tahun diasuh oleh sang Patih membuat kedua putri terlatih untuk membaca situasi. Banyak hal yang mereka pelajari dari sang Patih itu termasuk ilmu kanuragan (idiih…) dan strategi berperang maupun bela diri (sangar…..). merekapun menyusun strategi di dalam kereta kuda bagaimana caranya agar pembuntut keluar dari tempatnya.
Eng…. Ing….. eng….
Akhirnya mereka berhasil memaksa sang intel kluar dari rimbunnya pohon-pohon cabe. Putri Jilanpun ambil ancang-ancang mencabut pohon-pohon cabe berikut akar, mengingat harga cabe yang menembus angka 120ribu rupiah per kg.
“Idihhh, paman Patih gimana si? Pake2 acara ngebuntutin kita. Something wrong with us kah? Sampe gini bgt…. Piye iki Jilan?” Trias mendelik tajam kearah Patih.
“Yeee, jgn marah gitu dun, Patih gini ni karena peduli ke kalian. Banyangin coba kalau terjadi apa2.” jawabnya pelan sambil update status FB lewat BBnya “o’o aku ketahuan….”
“Berarti paman Patih so tau dang… kalau kita senang sama Satikin?” ujar Jilan.
“Ya, gitu duehhhh.” sahut Patih setenang air empang.
“Yah, gimana dun Trias. Gawat nieh kalo paman Patih kasitau Paduka papih tentang ini. Mana mulut nih Patih agak2 brodol lagiehhhh.” bisik Jilan ke Trias.
“Patih, tolong jangan kasitau paduka papih dong…” rayu Trias ke Patih.
“ne, ne, ne…. jangan rayu saya le. Papih kalian itu sudah saya anggap sodara. Jd saya wajib lapor.” tangkis Patih.
“Oh, c’mon paman Patih…. Seng usah gitu lee. Torang samua basudara. Masak paman Patih so lupa pakita le, dari kecil rawat kita, masak so besar seng bantu kita lagi….” kali ini Jilan yang ngerayu.
Melihat dan mengingat itu, paman Patih menerawang jauh beberapa tahun lalu ketika dia dipercayakan merawat putri-putri baginda raja…. Terbit pulalah belas kasihan di hatinya.
“Well… okeh. But in one condition honey…”
“Opo.” sahut mereka kompak.
“Isseratos…. Sini lo!!” teriaknya. Kedua putri melongok mode on ke Isseratos.
“Yup, ndoro… ono opo?” jawab Isseratos nyante.
“Belum lewat depan KE’EP’SI kita kan? So lapar leee…. Mampir sanah kita dolo.” tandasnya.
“Yo’I.” Isseratospun mempercepat lari kudanya.
“Traktir dolo. Seng ada doi.” ujarnya nyantee kearah kedua putri.
Sialan, dasar antublau. Tau aja tanggal tuwir. Rutuk mereka dalam hati.

Kukuuuuruuuuuyuuuuuuuuuuk…… (ayam Bangkok coy…)
Tok….tok….tok…. tak ada jawaban.
Tok….tok….tok…. masih tidak ada jawaban. TOK.TOK.TOK… Masih juga tidak ada jawaban. Akhirnya Fitsa kepaksa inisiatip dobrak.
“Huahem…. Ada apa? Pagi-pagi gangguin aja duehhh ih.” Belum selesai ngucek mata, Trias langsung kaget pintunya ilang….
“Nape loe. Kesambet ya bu, buka pintu pake acara dobrak. Padahal pintunya kaga dikonci. Xixixixixixi.” Trias cekikikan ganjen, langsung di jotos sama Fitsa.
Sekian lama memendam rasa gak enak juga, selama ini papihnya yang menjadi tempat curhatnya sibuk dengan urusan kerajaan. Akirnya diapun pengen curhat sama Trias. “Mau curhat gwee nie.”
“Curhat apa?”
“Trias… tau gak sie. Gweh lagi ilfil nih ttg perasaan guweh, ke seseorang.”
“Sape?”
“Nikujeng.”
“Hell...”
“What?”
“Udah denger, bukannya kamu dah bilang. Udah dueh. Gak usah diurusin itu orang gak jelas bgt bo.”
“Yee.”
“Pa’an yang yee?”
“Denger dulu dong neng.”
“Iya deh.”
“Nikujeng itu nyebelin tau gak si lo!!! Dia bikin gweh terpermainkan (jiahh). Ternyata semua tak berart Trias… hiks. Paling nggak dia nyadar diri gitu loh. Kalo emang mainin wanita tuh mbok ya jgn akuh. Dia bilang kangen lah, sayang lah… tapi apa, apa sekarang. Semua ternyata Cuma main2 doank, dan dia anggap semua ini terasa mudah dan biasa ajah.” Fitsapun sesegukan berucap.
Trias ga tau mau gimana lagi. Nikujeng itu adalah manusia paling hina dimatanya sekarang. Memang sih Trias sudah memperingatkan Fitsa untuk tidak mengambil hati tiap ucapan Nikujeng dulu. Tapi apa mau dikata, kalau sudah menyangkut yang namanya hati, persoalannya bisa ruwet gini.
Dulu, Nikujeng adalah pemuda desa yang diangkat Baginda Raja untuk menjadi babu di istana. Namun karna kepintarannya akhirnya Baginda Raja menyekolahkan dia ke negri Cina (idiiih…) dan kemudian menetap di istana untuk mengabdi. Selain karena kepintarannya, Nikujeng juga hebat bernyanyi. Merasa sudah mapan dan pantas, akhirnya dia tidak ragu untuk mengungkapkan cinta pada putri Jilan kala itu. Putri Jilanpun akhirnya luluh. Tapi karna satu dan lain hal, akhirnya hubungan ini kandas. Nikujeng yang mengaku masih cinta masih saja memendam prasaannya kepada sang putri dan berkeras menunggu sang putri kembali untuknya. Namun, sang putri menganggap bahwa semua sudah berakhir dan tidak bergeming atas keputusan itu.
Nikujeng yang kemudian diangkat menjadi dayang putri Fitsa memutuskan untuk mendekati putri Fitsa. Sang putri yang masih muda itupun sepertinya mulai terpikat oleh Nikujeng. Putri Trias yang melihat hal ini turut senang, melihat putri Fitsa yang tidak semurung dulu ketika Paduka mamih berangkat untuk menunaikan tugas kerajaan. Tapi usut punya usut, putri Fitsa yang sering curhat ke putri Trias mengungkapkan bahwa sampai saat ini Nikujeng belum mampu melepas putri Jilan. Putri Trias bingung, Nikujeng dengan jelas bilang kalau dia menyukai putri Fitsa tapi masih saja bilang kalau masih menunggu putri Jilan.
“Hello…. Any body there? Woiii Trias, aku itu curhat loh sama kamu, malah kamunya bengong mirip sapi ompong…”
“Sory bu’e…. uhmmm. Piye ya fitsa, aku kan udah ngomong berkali-kali sama kamu gak usah diurusin lah. Kalo emang dia udah bikin kamu terluka sekarang, anggap saja ini adalah konsekuensi dari toleransi perasaanmu ke dia, padahal kamu dengan sangat sadar mengerti kalau apa yang diperbuatnya ke kamu itu salah. Walaupun memang secara bobot, kesalahan terbesar dilakukan oleh Nikujeng. Mending kamu ngomong sama paduka papih deh. Paduka papihkan cowok jadi sedikit banyak isi pikiran mereka sama. Yah, meskipun pikiran Nikujeng itu sudah terkontam oleh perasaan yang ingin memiliki itu. Huh, dia deketin kamu cma buat Jilan sakit hati. Tapi apa yang terjadi gak ngefek tuh…. Kasian dueh dia…rasain tuh. Denger2 dia juga udah tau, Jilan punya hati sama Satikin.” Cerocos Trias tanpa henti berharap Fitsa tidak membuang waktunya untuk bersedih mengingat kunyuk yang bernama Nikujeng.
“Ia deh, ntar tak tanyain sama paduka papih.” ucap Fitra sambil berlalu dari kamar Trias.
Pikiran Trias menerawang jauh, mendengar curhatan dari Fitra, dia sebenarnya agak iri. Dua saudaranya bisa dengan lancar mengungkapkan apa yang mereka rasakan, sedangkan dia… dia bahkan tidak tahu harus memulai berucap darimana. Banyak yang ingin dia ungkapkan, namun tetap saja hanya menjadi seorang pendengar yang tetap tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Di dalam hati kecilnya dia ingin ada seseorang yang bisa mendengarkan apa yang dia rasakan tanpa protes akan ketidakteraturan alur ceritanya atau sulitnya mengungkapkan sesuatu hal. Jauh di dasar hatinya Trias menginginkan orang yang dengan sabar mendengar dia bercerita dan tidak akan menimpali keluh kesahnya dengan hal-hal yang tidak berhubungan. Keseringannya mendengar cerita orang lain membuatnya terus terbiasa untuk mendengar bukan untuk didengar. Hatinya semakin pedih jika seseorang menilainya terlalu angkuh dan tidak mau berbagi cerita dengan orang lain. Aku ingin tapi aku selalu enggan untuk memulai. Aku ingin membagi duniaku, namun aku terlalu rendah diri apakah kau akan mengerti isi duniaku nanti. Aku menganggap aku tidak lebih dari seorang pecundang, berkeinginan menjadi orang baik dengan menjadi pendengar yang baik untuk orang-orang disekelilingku sementara hatiku sendiri melonjak untuk berteriak, dengarkan aku… aku hanya manusia yang tidak ingin sendirian, aku ingin menjadi apa yang dinilai baik sehingga orang-orangpun ingin bersamaku.

3 komentar:

  1. Halah, endingnya curhatan pribadi wakakakkakak......
    tapi saya tidak terima, kau manisho menuliskannya hahahaha....
    ta tunggu kelanjutannya...
    SECEPATNYA!!!!!!

    BalasHapus
  2. wkwkwkwkwkwk.......
    gara-gara ketawa baca ini, skandal dengan dosen...
    hihihihi
    hmmmm,,,, membaca akhir ceritamu, cobalah untuk memulai... Seberapa besar kita akan masuk kalo pintu yang dibuka tidak gukup lebar...
    :-)

    BalasHapus
  3. thx for all coment hehehehehe.. blum end koq ntar tak kasi ceritanya lagi via fb.. quququququ

    BalasHapus